Cuplikan 03: Survey menggunakan paper vs online pada isu sensitive

Catatan kali ini adalah tentang penelitian yang dilakukan oleh empat bimbingan saya. Namun demikian, fokus utama saya pada ke empat penelitian payung tersebut lebih ke arah metode pengambilan datanya, yaitu metode survey.

Disclaimer
Tulisan disini tidak akan saya sampaikan dengan detail mengingat hasil penelitian ini sedang dalam 
proses penulisan publikasi. Penulis akan mengedit jika paper telah terbit

Latar belakang

Diawal penentuan penelitian payung yang saya lakukan, saya ingin meneliti tentang penggunaan metode pengambilan survey, antara paper based dan online. Peneliti berkeingan untuk melihat, bagaimanakah respon yang diberikan oleh responden ketika mereka di beri pertanyaan yang sensitif atau boleh dikata jarang orang menanyakannya karena dianggap tabu (misalnya). Peneliti ingin melihat, apakah penggunaan metode paper based vs online memberikan perbedaan respon pada survey yang disebarkan.

Apakah isu sensitif yang ditanyakan ? Disini yang di tanyakan adalah pertanyaan tentang tingkat relijiusitas sang mahasiswa/i. Sangat jarang mereka ditanyai seberapa ber agama dan ketaatan terhadap ajaran yang dilaksanakan. (sebenarnya ada variable lain yang ditanyakan, namun tidak saya tuliskan disini)

Setting Penelitian

Penelitian mengambil sample di institusi ini, dan dilakukan pada dua program studi eksakta. Yang secara kebetulan mempunyai jumlah mahasiswa per tahun yang mirip. Keduanya memiliki sekitar 200 mahasiswa/i pertahun, dengan perbandingan yang kebetulan berkebalikan. Pada prodi A memiliki perbandingan laki-laki perempuan (70:30) sedangkan pada prodi B memiliki perbandingan (30:70) Pengambilan sample dilakukan dengan random dan proposional berdasarkan rasio jenis kelamin mahasiswa/i di setiap prodi.

Jalannya Penelitian

Kuesioner yang digunakan dalam pengembangannya telah dikonsultasikan kepada expert. Dan dalam setelah pengembangan kuesioner, kemudian dilakukan uji reliabilitas pada kuesioner itu. Dalam penelitian ini, menggunakan 4 cara pengambilan survey, dengan masing-masing sampel pada tiap metode berjumlah 48. Metode survey tersebut adalah :

  1. Paper based, survey di sebarkan pada lembar kertas dan diserahkan kepada responden
  2. Paper based survey yang di envelope sealed, lembar kuesioner ada di dalam amplop dan diserahkan kepada responden. Responden membuka amplop dan mengisi kuesioner tersebut dan kemudian dimasukkan kembali oleh responden dan kemudian di sealed (tutup, direkatkan)
  3. Kuesioner menggunakan Line, dimana peneliti dan responden bertukar line ID dan kemudian survey di berikan melalui Line survey.
  4. Google form, dengan cara peneliti memberikan kuesioner menggunakan tablet yang diberikan kepada responden untuk mengisi, dan responden men submit.

Hasil

Dari hasil diatas terlihat sesuatu yang menarik untuk diperhatikan, bahwa sealed envelope memberikan mean yang lebih rendah dibanding open paper survey.
Dan Line survey memberikan nilai yang lebih tinggi dibandingkan Google form.

Diskusi dan Simpulan

Secara sederhana dapat kita coba lihat hasil diatas. Peneliti tidak dapat melihat perbedaan pola jawaban jika membandingkan antara paper based dibandingkan dengan online survey. Namun jika melihat dari sisi antara hidden identity (identitas tersembunyi) vs identitas yang terbuka, akan terlihat persamaan pola. Bahwa skor lebih rendah pada survey dengan identitas yang tersembunyi (sealed paper dan google form) dibandingkan dengan identitas yang terlihat/dikenal antara enumerator dan responden (paper based – open dan Line survey).

Beberapa literature mengatakan, bahwa sebenarnya yang berpengaruh terhadap validitas hasil survey online itu salah satunya tergantung randomness nya. Jadi disini menggunakan paper based survey juga demikian. Sepertinya terlihat dari hasil bahwa, ketika responden tidak diketahui identitasinya, menghasilkan hasil skor lebih rendah. Apakah artinya responden lebih berani mengatakan yang sesungguhnya ? Hasil ini memerlukan penelitian yang lebih mendalam. Terlihat fenomena yang sepertinya mengarah bahwa, menggunakan paper atau online, asalkan responden mendapat keamanan dan yakin dapat mengeluarkan pendapat dengan bebas (hidden identity) akan menghasilkan gambaran yang lebih mendekati kondisi sebenarnya.
Dalam hal ini, terlihat bahwa penggunaan survey online dapat menggantikan survey menggunakan paper. Tentunya dengan beberapa catatan, tujuan survey itu sendiri.

Lesson Learn

  1. Online survey mempunyai keuntungan dimana bisa di deploy dalam jumlah besar dan luas dalam waktu yang singkat.
  2. Data dapat dikumpulkan dalam waktu cepat, tidak ada proses input data yang membutuhkan banyak waktu
  3. Dan jelas, ini menghemat banyak biaya
  4. Dengan catatan, membutuhkan koneksi internet. Namun jika koneksi internet tidak ada, maka sebenarnya ada solusi elektronik survey yang tidak memerlukan koneksi internet, karena dapat dilakukan secara offline (misalnya menggunakan ODK Collect).

Catatan :
electronic survey ini hanyalah tools, yang terpenting adalah design metodologi pengumpulan data. Intinya, mendapatkan data yang anda perlukan. silahkan anda mempertimbangkan untung rugi penggunaan teknologi ini.
Selamat mengadakan survey.