Cuplikan 02 : Health Education –informasi di Internet vs buku

Kali ini ada fakta menarik yang muncul dalam tesis dari 2 orang bimbingan saya, yaitu ibu Ella dan ibu Dani. Yaitu pemanfaatan pencarian informasi melalui buku vs informasi melalui internet.

Disclaimer :
Topik penelitian dari dua students saya bukan berfokus pada topik yang saya angkat pada judul ini. 
Namun ternyata, didalam penelitian tersebut, muncul fakta yang sangat menarik perhatian saya. 
Mengingat ini adalah peneltian students saya, maka saya belum bisa membocorkan terlalu banyak detail 
isinya, karena akan menjadi publikasi. Jika publikasi sudah ada, maka tulisan ini akan saya update.

Penelitian mereka menggunakan metode mixed method, dilakukan di unit pelayanan kesehatan primer, 
yang berlokasi di Kota Yogyakarta. Jika pembaca berkeinginan untuk menanyakan sumber refensi, 
bisa melalu saya dengan mengirim email seperti yang tertera di halaman about me.

Health Education

Disini secara sederhana diartikan sebagai mengajarkan kesehatan kepada masyarakat. Sorotan kali ini adalah penggunaan media buku yang digunakan oleh profesional kesehatan untuk menyampaikan informasi kesehatan. Secara spesifik adalah buku Kesehatan Ibu Anak (KIA). Dimana buku KIA ini ” berisi catatan kesehatan ibu (hamil, bersalin dan nifas) dan anak (bayi baru lahir sampai anak usia 6 tahun) serta berbagai informasi cara memelihara dan merawat kesehatan ibu dan anak.”
Nah coba perhatikan penekanan “informasi” diatas, ini lah yang perlu dikaji ulang.

Sosial Demografi

Boleh dikatakan karakter responden/informan di dalam penelitian ini menurut perkiraan penulis (berdasar dari sumber ini) adalah menengah tengah dan menengah kebawah.

Milenial era – not the millenial generation only

Ketika orang membicarakan generasi millenial, penulis meyakini pula bahwa lingkungan atau teknologi yang ada pun telah merambah generasi yang sekarang ini berumur 30 tahunan keatas. Jika dilihat di data APJII maka dapat dilihat bahwa penetrasi internet dan smartphone semakin menjangkau bahkan kalangan orang diatas 45 tahun.

Dan menariknya dari data inflasi sering menyebutkan bahwa beras dan pulsa bisa menyebabkan faktor inflasi yang penting. Dan ini pun didukung data APJII bahwa penggunaan pulsa lebih banyak untuk internet. Jelas lebih banyak daripada 5 tahun lalu yang masih berfokus pada voice, bukan data.

Proses pembelajaran

Ketika dahulu kala seorang guru ada sumber segala informasi dan kebenaran, maka di jaman modern ini tidaklah demikian. Guru lebih menjadi seorang fasilitator, mengarahkan students. Pengalaman saya mengajar sebenernya menarik, para mahasiswa/i saya itu sudah sangat menyatu dengan smartphone yang selalu melekat di tangan mereka. Pada awalnya, saya mengira bahwa tidak sopan bagi mereka ketika guru ataupun dosen memberikan kuliah atau ketika sedang diskusi, mata mereka tertuju pada smartphone mereka.

Namun ternyata harus kita pahami, bahwa kehidupan mereka sudah menyatu dengan teknologi tersebut. Dengan cepat mereka akan mengkonfirmasi informasi/isi kuliah yang kita katakan di depan kelas melalui internet. Dan bahkan mereka bisa mendapatkan hasil yang lebih mengejutkan dibanding yang kita baca ? mengapa demikian ? jelas bahwa banyak kepala tentu akan mempunyai chance untuk mendapatkan informasi didalam belantara internet yang berbeda dengan yang kita baca. Jadi wahai teacher or lecture, jangan yakin bahwa anda tahu segalanya. Mereka ini juga mempunyai kebiasaan unik (menurut kacamata saya yang sudah tua ini) bawah mencatat bahkan mengedit dokumen tulisan itu melalui smartphone. Unik kan ? betapa cepat mereka menggerakkan ibu jari bisa menyaingi kecepatan mengetik “sebelas jari” di keyboard komputer.

Oleh karena sifat diatas, dalam refreshing/updating metode pembelajaran, diingatkan bahwa sifat sumber mutlak di depan kelas sudah lebih bergeser menjadi fasilitator. Menfasilitasi para pembelajar untuk belajar, serta mengarahkan jika mereka keluar jalur dari topik yang harus mereka kuasai.

Media penyampaian

Media penyampaian informasi juga banyak mengalami pergeseran. Jika kita memahami bahwa penyampaian informasi bisa melalui media cetak, elektronik, audio ataupun movie. Dan sudah sejak tahun 2000an awal, sudah dikenalkan konsep blended learning, dengan menggabungkan beberapa jalur penyampaian informasi menjadi satu kesatuan dan bergandengan tangan dengan internet, memberikan pula akses informasi yang instan dan seketika. Dan yang penting adalah tidak adanya pembatasan geografis.

Temuan menarik

Nah temuan menarik apakah disini ? Bahwa informan mengatakan, buku tidak bisa menyediakan informasi seketika ketika anak pilek. Mereka juga mengatakan bahwa mencari infomasi menggunakan smartphone adalah hal yang biasa mereka lakukan.

Disini juga secara tidak langsung menunjukkan fakta bahwa mereka kemanapun selalau membawa smartphone, dan tidak membawa buku KIA. Sehingga, mencari informasi jelas donk, melalui internet. Dan ketika disampaikan bahwa buku tersebut sangat bagus, banyak gambar menarik, dan informasi yang bagus, dijawab informan dengan, ” tapi itu kan buku …”
Disini saya mendapat kesan bahwa buku itu tidak cukup.

Jika ditinjau teori pembelajaran, memang ada orang yang mode belajar itu lebih kearah visual, atau auditory misalnya. Tentu, penyediaan informasi kesehatan yang hanya berfokus pada buku saja tidak bijaksana. Dalam proses pembelajaran yang baru, maka kita para fasilitator juga dituntut untuk memberikan materi menggunakan media yang beragam. Kita menyediakan informasi tersebut dengan media dimana mereka merasa nyaman untuk menyerapnya. Jadi multi media …multi jalur penyampaian.

Kita tidak bisa memaksa donk, bahwa mereka harus membaca buku. Healthcare worker kan harus melihat dari sisi bahwa patient atau masyarakat sasaran itu adalah customer nya. Yang harus disedikan agar mereka puas, tidak ada keluhan. Jika memang suka audio, sediakan audio. Jika suka movie, disediakan movie. Jadi bisa terjadi personalized study, dimana mereka bisa mendapatkan pengalaman yang baik ketika belajar, karena sesuai dengan kebutuhan mereka.

Memang betul bahwa tidak semua orang mempunyai akses internet. Karena masih terbatas di lokasi yang terjangkau internet saja, boleh dikata pada saat ini masih di pula Jawa saja meratanya.
Namun jumlah penduduk yang banyak bisa menjadi alasan kuat bahwa memang penyedian informasi tidak cukup hanya menggunakan buku.

Tantangan kedepan

Jika goal nya — pada contoh ini adalah penurunan angka kematian ibu dan anak — maka stick to that goal. Jika kita memahami bahwa jaman dan kebutuhan sudah berubah, sudah selayaknya kita menyediakan sarana informasi yang dibutuhkan oleh customer kita, yaitu penduduk yang dalam jangkauan wilayah kerja para tenaga kesehatan, sesuai dengan media pilihannya.

Namun demikian, media tradisional (buku, poster) juga tidak boleh dilupakan, karena ingat, banyak daerah yang belum dapat terjangkau internet maupun smartphone.
Yang menurut opini penulis, yang tidak boleh adalah, pada jaman ini masih menfokuskan utamanya pada media cetak untuk media pendidikan kesehatan di seluruh Indonesia.

Dan tantangan berikut yang penting adalah, jika kita sudah mengetahui bahwa mereka senang mencari informasi dari internet, maka healthcare profesional juga harus memberikan solusi. Misalnya memberikan link atau sumber informasi yang valid, sehingga tidak perlu juga membuat sendiri dari awal. Dengan demikian, bisa dipastikan atau memperkecil kemungkinan, masyarakat itu mendapatkan informasi HOAX atau informasi yang tidak valid yang tidak ada gunanya atau bahkan merugikan masyarakat. Kita harus memastikan bahwa mereka mendapati informasi dari sumber yang terpercaya.