Cuplikan 01: Industry 4.0 dan pengaruhnya dalam Health care.

Mungkin anda pembaca blog ini sudah sering mendengar atau membaca di banyak media tentang Industry 4.0 . Nah, apakah sebenarnya Industry 4.0 itu ? Dan bagi kita insan yang berkecimpung di bidang pelayanan kesehatan, apakah akan terpengaruh olehnya ? Marilah kita sedikit melihat ulasan berikut.

Apakah Industry 4.0 itu ?

Pada dasarnya, Industry 4.0 itu adalah revolusi industri. Revolusi industri yang menggabungkan otomatisasi (yang sekarang sudah ada ini) digabungkan dengan teknologi internet. Mixed between industry and cyber technology.

Apakah kehebatannya ? karena adanya pertukaran data yang tanpa ada batas lokasi fisik. Sistem ini, pada industri manufaktur,  mencakup sistem cyber-physical, internet of things (IoT), komputasi awan (cloud computing), dan komputasi kognitif (cognitive computing).

Peran Industry 4.0

Teknologi digital ternyata bisa merubah manusia, terutama pada perspektif manusia terhadap keberadaan teknologi itu sendiri. Itu adalah internet.
Internet memberi kemudahan terutama dalam berbagi informasi dengan cepat dan efisien, juga dapat menurunkan hambatan batas-batas linguistik dan geografis. Dunia telah berkembang menjadi unlimited access, tidak ada batas jarak, bahkan kendala bahasa pun dapat mudah terpecahkan. Informasi dan pesan dapat sampai ke seberang bumi dalam waktu yang sekejap. 

Industri 4.0 merupakan salah satu tren utama di dunia yang terpengaruh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, dimana hal ini belum pernah terjadi sebelumnya sehingga mempengaruhi semua sektor ekonomi nasional, termasuk layanan kesehatan. Adanya revolusi industri 4.0 membawa harapan yang segar , dengan harapan adanya peningkatan layanan kesehatan, aksesibilitas dan juga tentun karena adanya efisiensi ekonomi.

Pengaruh dalam dunia kesehatan

Perkembangan dalam dunia kesehatan tidak terelakkan. Digitalisasi dalam layanan kesehatan terus mengalami kemajuan. Transformasi digital saat ini sedang dioptimalkan dan mengalami banyak proses penyesuaian, terobosan teknologi. Dan fokus utama selalu bertuju untuk peningkatan keselamatan pasien (patient safety) dan pelayanan kesehatan yang lebih baik.

Secara sederhana, pengaruh revolusi Industry 4.0 dapat terangkum menjadi :

  1. Teknologi mengubah layanan kesehatan yang tradisional ke modern. Ketersediaan layanan kesehatan 24 jam online akan memberikan manfaat terutama layanan kesehatan yang meningkatkan ketepatan keputusan klinis.
  2. Layanan yang maksimal karena adanya peranan teknologi yang bisa diakses pasien 24 jam online, dan menjadikan layanan tersebut lebih efisien.
  3. Perkembangan teknologi — misanya dalam asuhan persalinan — memerlukan penyesuaian tenaga kesehatan (ie : bidan) untuk dapat memanfaatkan teknologi tersebut. Dan untuk dapat melakukan penyesuaian terhadap perkembangan ini, maka
  4. Diperlukan pendidikan dan pengembangan profesional yang berkelanjutan. Penyediaan training ini bahkan sudah banyak berkembang metodenya, menggunakan e-learning misalnya. Penggabungan beberapa metode pendidikan dalam proses pelatihan juga meningkatkan aksesbilitas training tersebut, karena bisa diakses kapan saja, dan dimana saja.
  5. Dalam era Industri 4.0 mempermudah tenaga kesehatan melakukan pekerjaan mereka dengan lebih efisien; misalnya, di daerah terpencil, program pemantauan pasien dilakukan untuk membantu menilai tanda-tanda vital dan merekam pembacaan biometrik dan elektrokardiogram. Banyak contoh teknologi terintegrasi dalam kegiatan keperawatan sehari-hari di sejumlah negara, dari dikeluarkannya obat- obatan berkode untuk pasien rawat inap dan promosi kesehatan sesuai permintaan. Selain itu, aplikasi seperti Fit atau Aplikasi Kesehatan, tersedia di smartphone meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan. Hasil dari penggunaan teknologi ini bisa bermanfaat dalam identifikasi awal masalah kesehatan yang muncul, memungkinkan intervensi kesehatan segera, sehingga mengurangi kunjungan gawat darurat dan rawat inap.
  6. Menyediakan kemampuan untuk menghubungkan semuanya ke internet, menghasilkan data di seluruh proses dan menggunakan analitik canggih untuk mendukung produk dan model layanan yang sepenuhnya baru. Kemampuan ini memungkinkan desentralisasi dan distribusi daya serta kemampuan di seluruh teknologi dalam layanan kesehatan. Sangat mungkin bahwa kemampuan Industri 4.0 (4.0 toolkit) pada akan diterapkan pada sistem perawatan kesehatan.
  7. Penerapan teknologi di industri 4.0 dalam pelayanan kesehatan disebut “Health 4.0”. Penerapan teknologi ini dilaksanakan berfokus pada pasien di rumah sakit atau klinik, fungsinya mengoptimalkan dan menyesuaikan pengobatan untuk hasil klinis yang lebih baik, dan untuk menstabilkan sistem perawatan kesehatan. Teknologi dan layanan berbasis 4.0 terus tumbuh, menarik sejumlah besar dana investasi, penelitian, dan inovasi secara global 
  8. Sementara itu, revolusi industri keempat (Industri 4.0) mengubah manufaktur sejalan dengan revolusi konsumen digital. Layanan kesehatan berbasis digital mulai menggunakan beberapa kemampuan untuk mengoptimalkan kepuasan pasien .

 

Bagaimanakah dengan dampak Industry 4.0 pada dunia kesehatan ?

Dampak dirasakan bisa ada di dua sisi, positif dan negatif. Namun perlu menjadi catatan, perubahan yang sangat cepat ini, yang berdampak negatif, haruslah dicari solusinya agar menjadi keuntungan di sisi pelayanan kesehatan, karena kemajuan teknologi dan arus deras Industry 4.0 ini tidak dapat di bendung.

Dampak positif dan negatif.

Penerapan teknologi baru yang berkembang sangat cepat, bisa menghemat biaya dalam jangka panjang meskipun biaya awal yang tinggi. Sebagai contoh, analisis terbaru berdasarkan data jangka pendek menemukan bahwa dua terapi kanker CAR-T baru, Kymriah (Novartis) dan Yescarta (Gilead), yang masing-masing memiliki biaya satu kali masing-masing $ 475.000 dan $ 373.000, biaya ini relatif lebih rendahf terhadap perawatan kemoterapi standar. Jelas dibutuhkan lebih banyak pekerjaan di bidang ini. Terapi baru harus mengatasi keefektifan biaya serta dampak ekonomi jangka panjangnya.

Revolusi ini akan mempercepat langkah perubahan dan menciptakan peluang baru, namun teknologi juga dapat menimbulkan masalah dan kesenjangan yang ada. Kemajuan dalam data dan otomatisasi menimbulkan risiko pengurangan pekerja. Bioteknologi seperti pengeditan genom akan merevolusi kesehatan dan kedokteran, namun juga meningkatkan kemungkinan timbulnya permasalahan etika, hukum dan tantangan sosial.

Penggunaan teknologi pelayanan kesehatan perlu 
dievaluasi efek dari semua perangkat yang digunakan untuk meningkatkan diagnosis, terapi dan komunikasi antara pasien dan tenaga kesehatan profesional. Teknologi yang akan digunakan harus dikaji evidance based nya, bagaimana pemprosesan bahasa digitalnya, dikaji realitas virtual kemudian dievaluasi dan dibahas, termasuk bagaimana penggunaan teknologi ini dapat mengubah layanan kesehatan dari segi perspektif pasien.

Penerapan teknologi dalam pelayanan kesehatan dan tata kelola teknologi yang muncul, hal yang utama di pertimbangkan adalah akses dan keterjangkauan. Teknologi baru harus dirasakan manfaatnya untuk semua orang, walaupun biaya yang dikeluarkan untuk inovasi akan meningkatkan pengeluaran yang besar. Penerapan teknologi yang membutuhkan dana besar menjadi penyebab utama meningkatnya biaya layanan kesehatan di AS, yang telah menghabiskan 17% dari PDB atau hampir $ 3 triliun untuk layanan kesehatan. Menurut Journal of American Medical Association (JAMA) edisi November 2013, kenaikan harga obat-obatan, peralatan medis dan perawatan rumah sakit menyumbang 91% dari kenaikan biaya perawatan kesehatan dari tahun 2000 sampai 2011. Sehingga revolusi industri 4.0 dalam penerapan teknologi kesehatan perlu dipertimbangkan dengan sangat matang.

Namun disisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa revolusi industri bukan sebagai solusi namun mejadi sebuah hambatan serius. Hambatan apakah ? Hambatan berupa implementasi ide-ide dan praktik baru yang dikembangkan secara manual, misalnya saja layanan kesehatan yang mengutamakan jalinan faktor sosial, ekonomi, etika dan psikologis tergeser hanya karena revolusi digital yang semakin berkembang.

Tantangan Penerapan

Dalam era generasi milenial ini, penerapan teknologi diperlukan pemikiran strategis yang cermat, tidak hanya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tetapi juga untuk mempromosikannya dengan cara yang berpusat pada pasien. Aspek-aspek sosio-kultural dan ekonomi juga merupakan dimensi yang harus diperhitungkan. Teknologi tepat guna haruslah menerapkan metode yang hemat sumber daya, mudah dirawat, dan berdampak polutif minimalis dibandingkan dengan teknologi arus utama, yang pada umumnya beremisi banyak limbah dan mencemari lingkungan.

Tantangan lain adalah harus adanya peningkatan skill, karena jika hal ini tidak dilakukan maka teknologi akan menggerus sumber daya manusia. Penerapan teknologi harus berdasarkan evidance dan literatur yang jelas. Dalam hal ini, jangan sampai penggunaan berfokus pada toolkit Industri 4.0 yang diterapkan untuk mengoptimalkan pendekatan medis yang ada namun tidak memperhatikan aspek lain yang tidak kalah penting.

References

  1. Bhavnani, Sanjeev P., Jagat Narula, and Partho P. Sengupta. 2016. “Mobile Technology and the Digitization of Healthcare.” European Heart Journal 37 (18): 1428–38.
    https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehv770.
  2. Chute, Chaloner, and Tara French. 2019. “Introducing Care 4.0: An Integrated Care Paradigm
    Built on Industry 4.0 Capabilities.” International Journal of Environmental Research and
    Public Health 16 (12): 2247. https://doi.org/10.3390/ijerph16122247.
  3. Haumont, Dominique, Cuong NguyenBa, and Neena Modi. 2017. “ENewborn: The Information
    Technology Revolution and Challenges for Neonatal Networks.” Neonatology 111 (4):
    388–97. https://doi.org/10.1159/000464267.
  4. McMaster, Rose. 2018. “Is the Fourth Industrial Revolution Relevant to You?” Nursing & Health Sciences 20 (2): 139–41. https://doi.org/10.1111/nhs.12542.
  5. Meskó, Bertalan, Gergely Hetényi, and Zsuzsanna Győrffy. 2018. “Will Artificial Intelligence
    Solve the Human Resource Crisis in Healthcare?” BMC Health Services Research 18
    (1). https://doi.org/10.1186/s12913-018-3359-4.
  6. Neumaier, Michael. 2018. “Diagnostics 4.0: The Medical Laboratory in Digital Health.” Clinical
    Chemistry and Laboratory Medicine (CCLM) 0 (0). https://doi.org/10.1515/cclm-2018-
    1088.
  7. Smith, Brian, and Alex Sverdlov. 2018. “Digital Technology: The Future Is Bright.” Clinical
    Pharmacology & Therapeutics 104 (1): 9–11. https://doi.org/10.1002/cpt.1092.
    Weinstein, James N. 2016. “An ‘Industrial Revolution’ in Health Care: The Data Tell Us the Time Has Come.” SPINE 41 (1): 1–2. https://doi.org/10.1097/BRS.0000000000001296.
  8. Wong, Geoff, Trisha Greenhalgh, and Ray Pawson. 2010. “Internet-Based Medical Education: A Realist Review of What Works, for Whom and in What Circumstances.” BMC Medical
    Education 10 (1). https://doi.org/10.1186/1472-6920-10-12.