Forcing to the Limit : Knowing your weakness to maximize your learning strategy

Melihat pertandingan Ginting di badminton Asian Games 2018 malam tadi, mengingatkan saya tentang proses belajar saya. Semoga sekelumit flash back ini, dapat memberi semangat bagi para students saya.

Sewaktu saya SMP, saya berlatih basket di sebuah klub di kota saya. Pelatih saya ada pelatih tim PON ketika itu, sehingga sejak pertama kali berlatih, saya terbiasa berlatih dengan standar latihan yang sangat ketat. Sampai pada saat itu, saya dan teman-teman itu jarang mengatakan capek atau merasakan capek. Saya ingat benar ketika itu kami bilang capek itu kalau memang mata berkunang-kunang atau bahkan tergeletak karena hampir pingsan. Menarik diantara teman termasuk saya mendapat tawaran untuk seleksi pelatnas kelompok umur di waktu itu. Sekedar menggambarkan seberapa kami berlatih. Not bad at all …

Kembali ketika saya tinggal di US, saya berlatih beladiri (hanya karena ingin olah raga). Dan secara kebetulan, pelatih saya waktu itu ternyata mantan Navy Seal, dengan pengalaman tour of duty yang banyak. Lebih cilakanya lagi, Sensei adalah pelatih beladiri militer dan juga polisi. Kenapa cilaka ? Saya itu ikut hanya karena ingin sekedar berolah raga.
Ternyata, prinsip beliau dalam melatih saya, dan diutarakan ke saya waktu itu adalah (kurang lebih begini):
“I will forced you, I will attack you, and I will keep corner you until the edge of the clift. And I will not stop, I will keep attacking you, not so that you jump into the clift. But to make you fly.”

Prinsip itu menunjukkan seberapa keras Sensei melatih saya, kami para murid-muridnya.
Sekarang tentang belajar, hubungannya dengan studi s2 maupun s3. Ternyata secara tidak langsung, pengalaman berlatih saya berpengaruh pada proses belajar saya. Setiap harinya ketika mengambil program PhD, saya pantang mengatakan capek, dan berhenti ketika memang sudah sampai limit batas capek. Kadang bisa berkunang-kunang.
Apakah ya efektif ? Nah, ternyata harus memahami kelemahan diri sendiri. Saya menemukan berdasar coba-coba pola belajar, dan menemukan pola yang terakhir itu paling cocok. Model belajar saya seperti mesin diesel, lambat untuk panas, tetapi begitu panas, jalan lancar dan bisa jauh. Lambat untuk belajar, maka harus menggunakan jam belajar yang lebih panjang. Maka ketika itu, setiap hari bisa antara 14-18 jam yang saya lakoni untuk belajar. Alhasil, ternyata saya bisa menyelesaikan dengan waktu yang tidak begitu lama, 3 tahun saja dan dengan beberapa publikasi Q1.

Bagaimanakah dengan anda ? kenali kelemahan diri anda sendiri. Ingat, bahwa seperti yang dikatakan seorang profesor dari UGM, “Tidak ada yang namanya orang bodoh, yang ada hanyalah orang yang mau membaca atau tidak”
Nah …. kenalilah betul pola belajar anda. Cobalah seperti Ginting, sang atlet badminton tersebut. Memutuskan berjuang sampai titik darah penghabisan ….

Selamat belajar … selamat berjuang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *