Things to consider 03: Should you choose the research topic that you like ?

Menarik ketika saya melakukan survey sederhana diantara para mahasiswa s2 saya didalam kelas. Apakah mereka ketika menentukan topik penelitian itu karena mereka ingin melakukan topik penelitian itu ? atau supv yang memberikan ide penelitian tersebut ?

Nah ini seperti menjadi pertanyaan yang menggelitik saya, apakah students lebih baik meneliti yang mereka suka ? atau meneliti topik yang lebih di “seyogyakan” oleh supv mereka ?

Nah menurut versi saya, didalam kelas tersebut saya mengatakan beberapa hal yang saya alami ketika membimbing mahasiswa dalam menyelesaikan tesis mereka.

  1. Kegiatan membimbing mahasiswa dalam penulisan tesis itu bukanlah sebuah hal yang mudah, jika dilihat dari segi waktu, tenaga dan pikiran.

Sebelum melangkah menjabarkan maksud point diatas, maka perlu dipahami bahwa tugas dosen dalam era sekarang, jaman now, ini semakin berat. Dosen di tuntut untuk dapat menghasilkan karya ilmiah yang bermutu dan dipublikasikan dalam jurnal yang bermutu. Yang artinya dosen sendiri harus melakukan penelitian yang baik, dan kemudian di tuntut untuk dapat menuliskannya dalam sebuah karya dalam bentuk artikel jurnal. Institusi pun menuntut dosen untuk mengeluarkan output penelitian tidak hanya berupa laporan penelitian, tapi harus berupa “published” article. Mengapa demikian ? itulah efek dari persaingan jaman now. Institusi harus bersaing untuk berprestasi dan stands out dibandingkan yang lain. Yah, efek persaingan lah. Harus lebih baik daripada pesaing. Nah institusi pendidikan sudah tentu salah satunya bersaing dalam hal penelitian dan publikasi.

Nah kembali ke waktu. Membimbing mahasiswa dalam penelitian itu menurut saya, tidak bisa hanya sekedar angin lalu. In my experience, sebagai dosen, maka saya ingin memberikan apa yang saya punya kepada bimbingan saya. Apalagi tentu saya ingin penelitian yang dilakukan oleh bimbingan saya mempunyai kualitas yang sangat baik. As high as the standard that I used to have in my own research.

Namun, saya menyadari bahwa, dalam taraf penelitian seorang mahasiswa s2, tentu mereka punya keterbatasan berupa waktu dan kemampuan. Karena memang mereka baru belajar meneliti. Sangat berbeda halnya ketika membimbing penelitian seorang mahasiswa s3. In this circumstances, saya bercerita tentang kondisi saya yang saat ini lebih banyak membimbing mahasiswa s2 dan s1 (baru punya 1 mahasiswa s3).

Oleh karena itu, jika ada kesempatan, saya lebih suka memberikan tema payung untuk beberapa mahasiswa saya sekaligus. Sehingga masing-masing variable, misalnya, bisa diteliti dengan lebih detail lagi. Apa keuntungannya bagi supervisor ? Hasil akhirnya bisa digabung untuk menjadi karya tulis ilmiah yang komprehensif dan layak untuk dipublikasikan ke dalam jurnal bereputasi yang tinggi (scopus Q1 atau Q2 misalnya). Tapi ini juga harus melalui kerja yang sangat keras dari sisi mahasiswa dan dosen pembimbing itu sendiri (baca=waktu yang banyak)

Tenaga … ? jelas .. waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengawasan dan pembimbingan itu menguras tenaga. Sejujurnya itu capek lho. Apalagi jika mahasiswanya nda rajin, atau ngeyelan (boso jowo, Bahasa Inggrisnya sih stuborn). Dan pikiran jelas tekuras lho. Kenapa ? ini kalau saya lho ya, kerena saya ingin sekali mendapatkan hasil penelitian yang baik, jadi ya bisa sampai terbawa mimpi nih.

  1. Berhubungan dengan pikiran yang terkuras tadi adalah tentang disiplin ilmu. Dosen tentu punya keahlian yang berbeda-beda. Sangat sombong menurut saya, jika saya mengatakan kepada mahasiswa saya bahwa saya bisa tahu segalanya. Emang saya siapa ? Sehingga ini berakibat pada masalah kualitas penelitian si mahasiswa itu sendiri.

Kalau saya membimbing mahasiwa yang jauuuh bidangnya dari keilmuan saya, sudah tentu tidak akan maksimal saya membimbing mereka. Ataupun jika saya bisa belajar tentang bidang keilmuan tersebut, tetap saja sangat terbatas kemampuan saya. Meningat waktu yang saya punya tidak hanya mengurusi students dan research mereka. Dosen punya tugas lain didalam instiusi , belum lagi penelitian mereka sendiri.

Menurut hemat saya, akan sangat menguntungkan bagi students, memilih penelitian yang sesuai dengan bidang ilmu supervisornya. Kumpulkan informasi, baca peneltian supervisor nya, pelajari. Dan kemudian sesuaikan dengan penelitian yang akan anda (students) lakukan.  Mengapa menguntungkan ? Pastilah kualitas penelitiannya akan jauh lebih baik.

  1. Current interest. Ketertarikan terkini dari dosen pembimbing.

Dosen kadang mempunyai ketertarikan pada topik tertentuk pada suatu masa, ini pengalaman saya. Mengapa ? karena curiosity. Atau kalau dalam pengamatan saya, bisa jadi sang dosen sedang mengerjakan research project pada topic tersebut.

Pada kejadian seperti ini, jika students meneliti seiring dengan current interest dari sang supv, biasanya sang supv sangat bersemangat. Anda akan banyak didorong untuk belajar dan mengerjakan dengan cepat, dan supv pun tidak segan-segan untuk membantu dan belajar topik tersebut. Menguntungkan bukan ?

  1. Pembimbingan dan penghargaan. Wah ini agak bikin malu kalau dengan terus terang mengatakan tentang honor. Serasa tidak pantas saya mengatakan demikian. Namun menariknya, mau membimbing mahasiswa s1 sampai s3, reward biasanya didapatkan ketika si students sudah selesai, dan melakukan seminar hasil penelitian (kadang disebut pra tesis) atau seminar tesis itu sendiri.

Mbok ya coba dibayangkan to, membimbing mahasiswa berbulan-bulan, bahkan tahunan, dapatnya ketika terakhir saja. Apa ya para students itu tidak kasihan ? 😛

Namun jangan salah ya, itu sekedar ungkapan saja, sejujurnya untuk saya pribadi, reward terbesar dan yang paling membahagiakan bagi saya adalah hasil penelitian itu sendiri. Apalagi bisa di publikasikan. Sungguh kepuasan batin yang tidak tergantikan.

Dari keempat hal tersebut diatas, biasanya saya memberi tahukan hal yang sangat sederhana sebagai kesimpulannya.
Meneliti sesuai arahan supv itu akan jauh lebih menguntungkan bagi students. Toh tujuannya agar lulus kan ? Juga mendapatkan ilmu yang banyak. Seringkali Supv “hanya” membutuhkan hasilnya saja (dari penelitian berkualitas).

Salah satu professor saya mengatakan begini : sudah to, nda usah rumit-rumit kalau ingin sekolah lagi (terutama mencari sekolah s3). Cari saja yang mau menerima kamu. Urusan kamu pingin belajar yang kamu tertarik, lakukan setelah selesai sekolahmu. Sekolah itu adalah belajar untuk dapat belajar.

Sederhana ya nasehatnya ? Tapi benar juga ternyata. Beliau mengatakan itu disekitar tahun 2001, dan sekarang tahun 2018 saya ternyata mengatakan hal senada dengan itu kepada students saya.

Well, the decision is yours. Cerita diatas sekedar ilustrasi dari sisi saya pribadi sebagai seorang dosen , peneliti sekaligus supervisor.
Sukses untuk penelitiannya. Jangan putus asa, dan selamat bekerja kembali dengan tesis anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *