Tips Memilih Jurnal untuk Publikasi

Saya sering mendapat pertanyaan secara tiba-tiba, kira-kira begini “Pak, bisakah memilihkan jurnal untuk mempublikasi paper saya ?” atau “Pak, mana jurnal yang cocok untuk paper saya?”
Ini pertanyaan yang sangat dilematis untuk dijawab.
Nah saya akan mencoba memberikan sedikit tips dan sharing pengalaman saya bagi anda yang akan memulai mempublikasikan penelitian atau paper.

Bagi saya, pertanyaan itu sebetulnya sangat sulit dijawab. Mengapa ? karena saya tidak tahu bidang anda. Dan yang lebih rumit lagi adalah, apa yang anda tulis sekarang ini ? ini sangat menentukan, sebab, sebagai contoh saya sendiri, walaupun bidang penelitian medical education, ketika menulis tentang ketrampilan komunikasi, maka saya memilih jurnal khusus komunikasi bidang kesehatan. Namun ketika saya menulis tentang metode analisis, saya bisa memasukkan kedalam journal yang bersifat umum. Intinya, kita mencari tempat / journal yang cocok dengan apa yang sedang kita tulis. Jadi bagi saya mudah untuk mencarinya, karena saya sudah hafal sasaran jurnal nya, untuk saya. Namun untuk orang lain, ini beda masalah.

Nah apa yang sedang anda tulis sekarang ini ? atau apa yang ingin ditulis ? Kita perlu menetapkan target journal yang akan kita tuju. Berdasarkan pengalaman saya, dengan tujuan itu, kita jadi punya target yang jelas.

Kalau paper anda sudah muncul dalam mimpi anda, tandanya sudah sangat serius menulis.
Lanjutkan usaha nya

Ok, mari kita mulai.
Langkah Pertama, nasehat dari seorang editor dari sebuah journal internasional terkemuka, untuk menentukan sasaran atau tujuan publikasi paper kita adalah jurnal yang sering di sitasi dari paper yang kita kita baca.
Berdasar pengalaman penulis, pilihlah paper yang berkualitas baik, atau dari sebuah “review paper”.

Perlu diketahui bahwa, salah satu alat ukur kualitas jurnal (walau banyak yang tidak setuju, tapi tidak ada pilihan lain) adalah indeks oleh Scopus. Seingat penulis, saat ini di Indonesia (Juli 2017), jurnal di Indonesia yang terindeks Scopus masih berjumlah 25, dan jurnal dalam bidang kesehatan di indonesia yang terindeks Scopus masih berjumlah 3 saja.

Didalam sistem Scopus, setiap jurnal mempunyai angka “Impact Factor”. Ini adalah angka yang menunjukkan jumlah dari rerata dari artikel dalam jurnal tersebut yang disitasi dalam rentang waktu tertentu. Perlu dingat, yang mensitasi juga harus dari sebuah artikel dari jurnal yang sudah terindeks oleh Scopus juga. Jadi jika di sitasi oleh paper yang tidak terindeks Scopus, maka tidak terhitung. Jadi semakin tinggi IF nya, maka dianggap semakin baik pula jurnal tersebut.

Namun, perlu diingat, itu berdasar seberapa banyak orang yang men sitasi paper tersebut. Bagaimana dengan dengan jurnal pada bidang ilmu yang sangat spesifik ? Para ahli yang meneliti dibidang itu tidak banyak, komunitas pemakai informasi nya pun tidak banyak. Maka IF bukan satu-satunya penanda kualitas jurnal tersebut. Quartile rangking, atau Q rank. Q rank ini membagi setiap jurnal berdasarkan kategori subyek nya. Q1 berarti top 25% sampai ke yang paling rendah Q4 adalah 25% posisi bawah. Jadi dari sini kita bisa mendapatkan gambaran bahwa IF pada jurnal Q1 tidaklah selalu sama.

Catatan, dengan mengikuti nasehat ini, anda biasanya akan mendapatkan sasaran tujuan berupa jurnal dengan IF yang tinggi atau mempunyai Q rank yang tinggi. Bagi para penulis pemula, ini mimpi buruk. Karena untuk dapat menhasilkan sebuah penelitian yang layak masuk jurnal Q rank tinggi, itu luar biasa effort nya, dan panjang cerita proses penelitiannya. Itu baru menelitinya, belum proses menulisnya, harus benar-benar berkualitas yang baik. Sudah submit pun, proses menunggu dan revisi dari jurnal top rank itu memakan waktu bisa lebih dari 1,5 tahun, dan sungguh menguras tenaga.

Tips menarik datang dari salah seorang researcher dari sebuah lembaga riset, jika anda baru memulai membangun reputasi sebagai penulis, jangan memulai dengan jurnal dengan ranking yang tinggi, mulailah dengan jurnal yang rendah rangkingnya. Tulis beberapa kali pada jurnal rangking dasar, kemudian meningkat ke jurnal rangking tinggi dengan bisa mensitasi tulisan-tulisan dari paper milik sendiri.

Ok, mari kita menginjak ke
Langkah Kedua, adalah mengenali tulisan kita sendiri.

Jurnal bisa sangat spesifik tentang topik yang dapat dipublikasikan, atau sebaliknya ada yang sangat luas topiknya. Bisa jadi paper kita di reject oleh jurnal Q3 namun diterima pada jurnal Q1 namun pada jurnal yang tepat dan tertarik dengan topik bahasan tulisan kita. Jadi, tahu benar tentang topik atau pesan apa yang ingin kita sampaikan pada paper tersebut, sangat mempengaruhi ketertarikan dari sebuah jurnal akan tulisan kita.

Pengalaman penulis, mencari jurnal ini susah-susah gampang. Jika anda susah punya list potential journal, silahkah kunjungi web jurnal tersebut, satu demi satu. Lihat jenis tulisan yang dapat diterima disitu, dan juga list topiknya. Dan yang lebih mendalam lagi, saya biasa membuka-bukan dan membaca paper dari 2 atau 3 terbitan terakhir dari jurnal tersebut, untuk mengamati gaya penerbitannya, juga melihat apa yang biasanya bisa dipublikasikan.

Jika anda punya 4 list kandidat, kunjungi satu-demi-satu, kemudian buat checklist nya. Urutkan prioritas yang akan anda tuju. Dan keluarkan dari list anda dengan segera, setelah anda kunjungi websitenya dan anda menemukan tidak cocok terhadap syarat atau style dari jurnal tersebut.

Contoh kasus nyata dari pengalaman pribadi, saya mempunyai bidang penelitian medical education. Satu paper saya pernah di tolak jurnal dibidang ini dengan rangking Q1 dengan IF sekitar 3. Ditolak 2 kali di jurnal yang berbeda, namun saya tidak putus asa, saya kembali memasukkan ke jurnal dengan ranking Q1 (lagi, dengan penuh ke – pedhe – an yang tinggi, maju tak gentar lah …). Nah dapat diterima. Mengapa ? karena saya memasukkan ke dalam jurnal dengan sub tema yang lebih spesifik untuk bidang yang saya tulis. Tulisan tersebut tentang Communication Skills Assessment di undergraduate medical school (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26149966), tidak menarik bagi dua jurnal top di bidang medical education, namun ternyata sangat cocok bagi jurnal yang mengkhususkan pada topik Edukasi bagi Pasien dan konseling. Topik mendidik medical student dibidang communication skills merupakan hot topic di jurnal tersebut. Jadi disini saya memilih jalur communication nya dari pada di educationnya.

Sebenarnya, banyak diantara teman-teman peneliti waktu menjadi PhD Student, mempunyai trik yang menarik. Setelah selesai menulis manuscript, mereka mensubmit ke jurnal paling tinggi yang dapat anda submit. Luar biasanya adalah, biasanya feedback dari reviewer sangat bagus dan sangat positif untuk memperbaiki tulisan kita. Setelah memperbaiki tulisan kita, berdasar feedback dari para ahli, barulah kita mensubmit kembali ke jurnal lain. Bisa dengan ranking yang lebih rendah (yang umum dilakukan) atau kalau sangat percaya diri, submit ke jurnal yang sama-sama bagus.

Nah ketika memilih suatu jurnal, kita harus jujur terhadap kualitas tulisan kita sendiri, baguskah ? layakkah ? jika memang yakin sangat baik, silahkan submit ke jurnal dengan Q rank yang tinggi. Dan penting diingat, di reject itu adalah wajar, walaupun sudah berpengalaman sekalipun. Jangan putus asa, dan tetap mencoba.

Mari kita mencari jurnalnya dari mesin pencari, dan tibalah pada
Langkah Ketiga artikel blog ini, mencari dan memilih jurnal Open Access. Mengapa Open Access ? agar paper kita bisa bebas di akses dan dibaca oleh siapapun. Bukankan tujuan kita mempublikasikan karya penelitian kita agar dapat di akses oleh komunitas akademik ? atau siapapun yang memerlukan ? Akan lebih berbahagia rasanya jika orang tersebut juga mensitasi hasil karya kita.

Nah apakah open access journal itu ?
Per definisi adalah publikasi dari kajian akademis yang terbit secara periodik (scholarly journals) atau sering di sebut juga peer-reviewed journal, yang tersedia secara gratis online kepada para pembaca tanpa ada batasan finansial ataupun legalitas selin dari keterbatasan akses internet itu sendiri. Mengapa gratis untuk dibaca siapapun ? Tidak seperti jurnal yang tidak open access, pembacalah yang diminta untuk membeli artikel tersebut, atau institusi berlangganan jurnal tersebut sehingga anggota institusi tersebut berhak membacanya. Walaupun OA gratis  bagi pembaca, sebetulnya masih ada biaya yang berhubungan dengan publikasi dan pengelolaan jurnal, beberapa mendapat subsidi (misal institusi pendidikan) atau dibebankan kepada penulis naskah itu sendiri (author membayar sekian jumlah biaya tersebut).
Perlu diketahui, beberapa program research funding, mempunyai prasyarat bahwa publikasi hasil penelitiannya diharuskan di terbitkan dalam format OA.

Mari kita kunjungi ke doaj.org

Pada contoh diatas, saya menuliskan kata kunci education. Karena tujuan kita mencari journal, maka lihat pada sisi kiri, “journal vs article”. Klik pada Journal saja. dan anda akan mendapatkan list journal potensial yang dapat anda tuju.

Nah mungkin akan muncul pertanyaan, bagaimana kualitas dari jurnal ini ? disini tidak ada penilaian kualitas, ini ada adalah index dari jurnal yang masuk kategori Open Access. Jadi anda harus berhati-hati untuk menentukannya. Perhatikan dengan seksama, bahwa banyak diantaranya mensyaratkan pembayaran / fee yang cukup tinggi.

Warning : jangan sampai memilih jurnal predator !! Dulu ada Beall’s list yang dapat menjadi patokan. Namun sayang web prof Beall ini tiba-tiba ditutup, bahkan web probadinya di universitas beliau juga di tutup. Rumor mengatakan banyak tekanan “politik” terhadap sepak terjang prof Beall yang sangat berani ini. Kontroversial, tapi sangat penting, mengingat memang tidak ada listing lain yang bisa dijadikan patokan. Silahkan ketik di google, beall’s list, nanti akan muncul banyak yang menyalin dan me republish blog beliau, sehingga kita masih dapat menggunakannya (walau sayang tidak terupdate dan terawat), ini adalah contohnya http://beallslist.weebly.com/ atau di predatory journal.

Apa itu Predatory Journal ? Didalam wikipedia sangat simple menjelaskan sebagai
“In academic publishing, predatory open access publishing is an exploitative open-access publishing business model that involves charging publication fees to authors without providing the editorial and publishing services associated with legitimate journals (open access or not)”
Secara sederhana dapat dijelaskan, pokok anda membayar (biasanya mahal), paper anda akan langsung terbit. Biasanya, proses antara submit sampai terbit bisa kurang dari 1 bulan. Dan yang jelas, tidak ada proses peer-review.

Namun jangan khawatir, masih banyak pengelola jurnal yang baik. Maka, silahkan window shopping 🙂
Dari situs masing-masing jurnal, biasanya akan terlihat mana jurnal yang dikelola dengan baik dan rapih. Misal, update news terkini, penerbitan berkala yang tertib, keterangan tentang jurnal yang lengkap, dsb. Pilih yang menurut pengamatan anda tertib administrasi.

Ada checklist nya ketika berniat sharing hasil research, apakah anda bisa mempercayai jurnal tersebut ?
http://thinkchecksubmit.org/  menyediakan tips nya. silahkan dibaca.
CHECK

SUBMIT

Sekarang kita melangkah lebih maju,

Langkah Ke Empat, yaitu mencari jurnal bereputasi yang terindeks oleh Scopus.

Silahkan kunjungi Scopus, pilihlah Sources. Disitu anda dapat menuliskan kata kunci untuk pencarian jurnal yang akan dicari.

Diatas saya masukkan kata kunci education, dan option yang dipilih adalah Title. Sehingga semua jurnal yang sudah terindeks oleh scopus dengan salah satu kata nya mengandung education, akan terpilih. By default, yang tertampil paling atas ada diurutkan pada jurnal dengan IF tertinggi.
Silahkan anda telusuri, dan buatlah checklist jurnal yang berpotensi untuk di gunakan mempublikasikan karya kita.

Harap diingat, bahwa mempublikasikan ke jurnal terindeks scopus akan lebih sulit dibanding jurnal yang belum terindeks scopus. Mengingat prasyarat untuk dapat terindeks cukup sulit. Yang dapat diterjemahkan, quality control dari penerbitan pada jurnal tersebut pasti lebih hati-hati.
Sebagai catatan, pada saat blog ini ditulis (6 Agustus 2017), hanya ada 3 jurnal bidang kesehatan – kedokteran – kedokteran gigi, yang terindeks di Scopus, itu saja berkisar Q3 dan Q4.

Oleh karena itu, ada trik satu lagi setelah kita search dengan kata kunci yang telah kita masukkan (ini berkaitan dengan tips diatas untuk membangun reputasi di dunia journal), yaitu : mulailah mencari dari jurnal dengan kualitas menengah (atau kebawah). Pada bagian bawah, pilih halaman tengah-tengah untuk memulai. Jangan memulai dari halaman paling belakang (atau search from the lowest).  Anda tidak ingin memulai dari yang paling rendah. Biasanya juga semakin tinggi IF nya, semakin rapih pula pengelolaan jurnal tersebut, itu akan memudahkan komunikasi anda kepada penerbit tersebut.

Ada salah satu option yang tidak kita singgung di awal, yaitu “display only OA journal”. Jika option ini dipilih, maka anda akan mendapatkan list dari jurnal OA yang sudah terindeks scopus.
hebat bukan ? anda tidak perlu mencari dulu dari DOAJ untuk mencari yang sudah terindeks scopus.

Silahkan anda bersuka cita mencatat list nya.
Selain ketepatan topik jurnal, salah satu yang menjadi perhatian penulis, biasanya adalah biaya publikasi. Ada yang gratis, ada yang membayar tidak begitu mahal, ada yang memang luar biasa mahal. Silahkan anda yang memilih. Bagi penulis, fee sebesar 250-350 USD masih dianggap sangat masuk akal (atau boleh dibilang murah), mengingat biaya produksi dan pengelolaan sebuah jurnal.

Harus diingat, ini yang tidak banyak diketahui peneliti pemula yang belajar mempublikasikan papernya, bahwa dulu-dulunya, tidak ada istilah jurnal OA. Tidak ada yang namnya biaya untuk submit paper. Semua gratis. Lantas bagaimana mereka bisa hidup ? karena langganan jurnal atau membeli eceran (per paper) lah mereka mendapat dananya. Sekitar 30 USD per paper. Mahal bukan ?
Nah dengan melihat sejarahnya, dapat dipahami bahwa kebanyakan jurnal Q1, atau top journal bukanlah open access. Tidak ada yang namanya membayar mahal untuk dapat publish di jurnal Q1, yang ada adalah hard-work.

Namun banyak perkembangan, jurnal yang bagus-bagus tersebut terkumpul/terkonsentrasi pada penerbit-penerbit besar, seperti Elsevier atau Taylor & Francis. Banyak yang kemudian tidak suka dengan kondisi ini, krn beranggapan bahwa produk akademis tidak seharusnya di komersialkan sebesar itu. Maka muncul gerakan Open Access tersebut, agar para pembaca dapat mengakses dan membaca paper dengan cuma-cuma.

Catatan, perkembangan tersebut direspon juga oleh para publisher besar, dengan memberikan opsi OA untuk artikel yang kita submit pada jurnal tersebut dengan membayar fee tertentu. Atau mereka mempromosikan jurnal yang memang di desain sejak awal sebagai OA journal.

Jika ada kendala akses ke Scopus, anda dapat mengakses alternatif database-nya menggunakan situs SJR , Scimago Jorunal & Country Rank. Dan silahkan langsung menuju menu Journal Rankings.

Contoh diatas saya memilih medicine pada box paling kiri. By default, adalah “all subject areas”. No 1 adalah jurnal dengan Q1 rank dengan Inpact Factor 39.29.

Jika anda ingin mencari jurnal dengan kata kunci anda, silahkan klik sudut kanan atas, dan masukkan kata kuncinya. Anda akan mendapatkan list jurnal dengan title mengandung kata kunci anda. Seperti yang penulis sampaikan diatas, mulai kira-kira dari daftar yang tengah untuk mencari.

Langkah ke-lima, action !!

Setelah tahu dimana anda mencari, dan bagaimana kira-kira sasaran yang dituju, langsung saja buat checklist jurnal yang potensial.

tabel diatas hanya sekedar contoh bagaimana anda membuat penilaian awal terhadap jurnal yang berpotensi untuk mempublikasikan karya anda

Sekali lagi penting diingat, tentukan range “kualitas” jurnal yang akan dituju. Dan harus jujur pada diri sendiri, seberapa “baik” kualitas pekerjaan kita ….

Nah, sekian sekilas tips mencari jurnal tujuan untuk mempublikasikan karya penelitian anda. Semoga cukup membantu. Yang penting sekarang adalah, menyiapkan manuscript nya, tentukan jurnal nya, ikuti persis petunjuk untuk author, dan happy submit 🙂

Q.A:

Q : Bagaimana memastikan bahwa "jika" memilih jurnal rank Q4, yakin bahwa dikemudian hari jurnal tersebut 
tidak akan terdegradasi ?
A : Jawaban sederhananya, tidak bisa. Kalau ingin angka kepastiannya tinggi , ya memilih jurnal Q1. 
Tapi ya sulit sekali memang. Oleh karena itu, penulis lebih cenderung memilih jurnal yang berafiliasi 
ke dalam sebuah institusi pendidikan, dan chief editor nya berasal dari institusi pendidikan yang kuat. 
Atau, selidiki di google schoolar atau scopus tentang reputasi editornya. Saya yakin, jika reputasinya baik, 
maka jurnalnya juga akan terpelihara dengan baik pula.

Comments 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *